Tampilkan postingan dengan label seafood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seafood. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2010

Health benefits of eating seafood

Research over the past few decades has shown that the nutrients and minerals in seafood can make improvements in brain development and reproduction and has highlighted the role for seafood in the functionality of the human body.

Heart health
Doctors have known of strong links between fish and healthy hearts ever since they noticed that fish-eating Inuit populations in the Arctic had low levels of heart disease. One study has suggested that adding one portion of fish a week to your diet can cut your chances of suffering a heart attack by half.

Fish is thought to protect the heart because eating less saturated fat and more Omega-3 can help to lower the amount of cholesterol and triglycerides in the blood – two fats that, in excess, increase the risk of heart disease. Omega-3 fats also have natural built-in anti-oxidants, which are thought to stop the thickening and damaging of artery walls.

Regularly eating fish oils is also thought to reduce the risk of arrhythmia – irregular electrical activity in the heart which increases the risk of sudden heart attacks.

Brain functionality
The human brain is 10-12% lipids, including the Omega-3 fat DHA. Recent studies suggest that older people can boost their brain power by eating more oily fish, with those who enjoy it regularly are able to remember better and think faster than those who eat none. Other research has also suggested that adding more DHA to the diet of children with attention-deficit hyperactivity disorder can reduce their behavioural problems and improve their reading skills, while there have also been links suggested between DHA and better concentration. Separate studies have suggested that older people who eat fish at least once a week could also have a lower chance of developing dementia and Alzheimer's disease.

Joint benefits
Including fish as a regular part of a balanced diet has been shown to help the symptoms of rheumatoid arthritis – a painful condition that causes joints to swell up, reducing strength and mobility. Studies also show that sufferers feel less stiff and sore in the morning if they keep their fish oil intake topped up.

Recent research has also found a link between Omega-3 fats and a slowing down in the wearing of cartilage that leads to osteoarthritis, opening the door for more research into whether eating more fish could help prevent the disease.

Iodine, Selenium, Vitamin A, Zinc
Fish is high in minerals such as iodine and selenium, which keep the body running smoothly. Iodine is essential for the thyroid gland, which controls growth and metabolism, while selenium is used to make enzymes that protect cell walls from cancer-causing free radicals, and helps prevent DNA damage caused by radiation and some chemicals.

Fish is also an excellent source of vitamin A, which is needed for healthy skin and eyes, and vitamin D, which is needed to help the body absorb calcium to strengthen teeth and bones.

Source: www.wikipedia.com

See also: Ice cream, sate

Selasa, 24 Agustus 2010

Singapore's Satay

Satay is one of the earliest foods to be associated with Singapore; it has been associated with the city since the 1940s. Previously sold on makeshift roadside stalls and pushcarts, concerns over public health and the rapid development of the city led to a major consolidation of satay stalls at Beach Road in the 1950s, which came to be collectively called the Satay Club. They were moved to the Esplanade Park in the 1960s, where they grew to the point of being constantly listed in tourism guides.

Open only after dark with an "al fresco" concept, the Satay Club defined how satay is served in Singapore since then, although they are also found across the island in most hawker stalls, modern food courts, and upscale restaurants at any time of the day. Moved several times around Esplanade Park due to development and land reclamation, the outlets finally left the area permanently to Clarke Quay in the late 1990s to make way for the building of the Esplanade - Theatres on the Bay.

Several competing satay hotspots have since emerged, with no one being able to lay claim to the reputation the Satay Club had at the Esplanade. While the name has been transferred to the Clarke Quay site, several stalls from the original Satay club have moved to Sembawang in the north of the city. The satay stalls which opened at Lau Pa Sat are popular with tourists. Served only at night when Boon Tat Street is closed to vehicular traffic and the stalls and tables occupy the street, it mimics the open-air dining style of previous establishments.

Other notable outlets include the ones at Newton Food Centre, East Coast Park Seafood Centre and Toa Payoh Central.

The common types of satay sold in Singapore include Satay Ayam (chicken satay), Satay Lembu (beef satay), Satay Kambing (mutton satay), Satay Perut (beef intestine), and Satay Babat (beef tripe).

Singapore’s national carrier, Singapore Airlines, also serves satay to its First and Raffles Class passengers as an appetizer.

Source: www.wikipedia.com


See also: sate, ice cream, seafood

Senin, 23 Agustus 2010

Beruang Tak Lewatkan Peluang, Harimau Suka Buruan yang Wow

By: Ratih

Saat ini dongeng sebelum tidur semakin jarang dilakukan karena banyaknya media elektronik yang “menemani” anak sebagai pengantar tidur. Padahal dongeng sebelum tidur merupakan salah satu cara internalisasi nilai atau penanaman norma sejak dini. Bagi kamu yang masih punya adik kecil, keponakan atau bahkan sudah punya anak, anak-anak murid (kalau cucu belum kali ya.. we're not that old...). Salah satu cerita ini merupakan kisah klasik dari Cina yang bagus untuk diceritakan pada mereka. Dongeng ini saya baca dalam salah satu buku Cina.


Seekor beruang berdiam diri di pinggir sungai. Ia makan ikan-ikan kecil yang lewat dalam sungai tersebut. Perlahan tapi pasti dia selalu mendapatkan makanan meski apa yang dia peroleh bukan ikan-ikan besar. Hal ini diketahui oleh seekor harimau yang selalu mendapatkan buruan yang besar. Harimau merasa heran dengan beruang yang mau saja makan ikan-ikan kecil.


“Beruang..apa yang kau lakukan disini? Apa yang kau dapat tak sebanding dengan pengorbanan kamu berdiri terus di pinggir sungai. Lebih baik kamu berburu denganku. Aku biasanya mendapatkan rusa besar dalam satu kali buruan,” ajak Harimau pada Beruang.


“O ya? Rusa itu kamu peroleh kapan saja?” tanya Beruang mulai tertarik dengan tawaran Harimau.

“Tentu saja tidak, kita harus memiliki strategi yang matang, tim yang solid dan mau menunggu karena rombongan rusa hanya lewat satu kali sebulan.”

“Satu kali sebulan?” Beruang mulai berpikir, pilihan mana yang lebih baik, ikan kecil yang sudah pasti ia peroleh atau rusa besar yang hanya satu kali dalam sebulan? Bagaimana dengan hari-hari selama bulan tanpa korban buruan? Beruang ini bukan jenis beruang yang hibernasi selama 3 bulan setelah memperoleh makanan. Beruang ini hanyalah beruang biasa yang hidup seperti layaknya hewan hutan lainnya, hari-hari dilalui dengan bangun dan tidur. “Seandainya aku beruang yang bisa hibernasi, tentu aku akan ikut harimau. Ah, lihatlah tubuh harimau itu begitu kurus kering, mungkin karena ia hanya mau menikmati buruan besar saja,” pikir beruang.


“Wah..sebulan sekali? Maaf ya harimau aku tidak bisa menjadi harimau yang gesit berlari. Aku juga tidak sepintar kamu dalam berstrategi menangkap rusa, aku juga tidak punya tim yang solid untuk menangkap rusa. Lagipula, aku takkan melepas ikan-ikan kecil ini untuk rusa yang belum tentu ada setiap hari. Tubuhku menjadi sebesar ini karena aku setiap hari memakan ikan kecil yang bisa kuperoleh. Aku tak memimpikan buruan besar yang tak mungkin kuperoleh dengan diriku berkemampuan seperti ini.”


Harimau merasa heran dengan keputusan beruang menolak ajakannya yang menggiurkan. Beruang merasa tak rugi apapun karena menolak ajakan harimau. Nah, dari ilustrasi ini coba tanyakan pada anak-anak kecil yang didongengi, mau menjadi seperti hewan apakah ia? Tentu saja, setiap jawaban tak ada yang benar atau salah. Pilihan untuk menjadi salah satu hewan pastinya beralasan, tergantung dari kemampuan masing-masing. Beruang menolak ajakan harimau karena dia hanya mau menjadi beruang penyuka ikan yang baik, harimau mengajak beruang karena dipikirnya ia memiliki buruan besar yang biasanya diinginkan juga oleh hewan-hewan lain. So, just be yourself. Be your best self.

Lihat juga: seafood, loewy, table 8

Rabu, 18 Agustus 2010

Dondurma

Dondurma (Turkish, literally "freezing") is the name given to ice cream in Turkey. Dondurma typically includes the ingredients milk, sugar, salep, and mastic, and may originate from the Turkish region of Kahramanmaraş.

Two qualities distinguish Turkish ice cream: texture and resistance to melting. Inclusion of the thickening agents salep, a flour made from the root of the Early Purple Orchid, and mastic, a resin, impart chewiness.

The Kahramanmaraş region is known for maraş dondurması, a variety which contains distinctly more salep than usual; tough and sticky, it is sometimes eaten with a knife and fork.

Consumption and culture

Dondurma is commonly sold from both street vendor's carts and store fronts where the mixture is churned regularly with long-handled paddles to keep it workable.

As of 2010, the average rate of consumption in Turkey was 2.8 liters of ice cream per person per year (compare to the USA at 18.3 liters per person in 2007, and world consumption leader New Zealand at 22-23 liters in 2006).

Some Turks adhere to a belief that cold foods, such as ice cream, will cause illnesses - such as sore throats and the common cold; it is held that consumption of warm liquid while consuming ice cream will counteract these effects.

The popularity of salepi dondurma has caused a decline of wild orchids in the region and led to a ban on exports of salep. Some translate salepi dondurma as "fox testicle ice cream"; however, the Turkish name comes directly from the Arabic name, saḥlab‎ ('orchid'), the two-lobed root of which resembles testicles.

Source: www.wikipedia.com

See also: sate, seafood

Rabu, 28 Juli 2010

Bunga Desa yang Kian Menua

Beruntunglah kita masih bisa tertawa lebar. Tak terlalu memikirkan makanan yang akan disantap hari ini atau esok hari. Terkadang dengan mudahnya kita buang-buang makanan yang sudah menjadi hak kita ke tempat sampah. Sementara, berdasarkan penelitian di daerah Muara Gembong dan Pebayuran, Kabupaten Bekasi kita bisa melihat seorang ibu yang tua renta bersusah payah demi menikmati makan siang. Ibu ini memiliki seorang anak yang telah menikah dan memberikannya cucu. Harapan dengan adanya keluarga baru ini bisa memperbaiki taraf hidup mereka ternyata tak terbukti. Mereka malah semakin melarat karena anak dan menantunya hanyalah nelayan kecil dan buruh tani lepasan yang tak jua bisa sebut pendapatan mereka cukup, apalagi berlebih. Sehingga, ibu tua renta ini mencoba membantu diri dan keluarganya dengan menangkap ikan-ikan kecil di sungai. Seringkali ikan-ikan yang tertangkap jaring-jaring ini hanyalah ikan-ikan kecil yang tak sebesar ikan gurame atau ikan mas yang biasa kita santap. Ikan-ikan yang beliau peroleh hanyalah ikan-ikan kecil sebesar ibu jari. Padahal berat juga mengangkat jaring itu di pinggir sungai dengan resiko terpeleset. Bukan hanya itu, mereka memasak kembali menggunakan kayu bakar karena tabung gas yang dibagikan pemerintah begitu menakutkan serta mengancam jiwa.

Bersyukurlah kita, dengan segala fasilitas yang kita miliki di rumah, dengan banyaknya restoran yang bisa kita kunjungi setiap saat. Tanpa perlu mengeluarkan keringat layaknya ibu tua renta yang tak pantas lagi bekerja. (Ratih)

See also: seafood


Kamis, 22 Juli 2010

Sip seafood

Seafood refers to any sea animal or plant that is served as food and eaten by humans. Seafoods include seawater animals, such as fish and shellfish (including molluscs and crustaceans). By extension, in North America although not generally in the United Kingdom, the term seafood is also applied to similar animals from fresh water and all edible aquatic animals are collectively referred to as seafood.

Edible seaweeds are also seafood, and are widely eaten around the world, especially in Asia. See the category of sea vegetables.

The harvesting of wild seafood is known as fishing and the cultivation and farming of seafood is known as aquaculture, mariculture, or in the case of fish, fish farming. Seafood is often distinguished from meat, although it is still animal and is excluded in a vegetarian diet. Seafood is an important source of protein in many diets around the world, especially in coastal areas.

See also: loewy, table 8

Source: www.wikipedia.com

Jumat, 16 Juli 2010

Nasi Goreng Indonesia

Alih Bahasa: Ratih

Nasi goreng merupakan makanan khas Indonesia dan Malaysia. Nasi goreng merupakan nasi dengan campuran bumbu, cabai, dan udang. Nasi goreng merupakan makanan nasional Indonesia yang tak mengenal batas sosial ekonomi. Makanan ini bisa ditemukan di warung nasi kecil hingga restoran mewah di hotel-hotel.

Bahan utama nasi goreng ialah nasi, kecap, bawang merah dan bawang putih dilengkapi dengan penyedap rasa. Nasi goreng dapat dinikmati kapan saja, bagi orang Indonesia, Malaysia dan Singapura nasi goreng dimakan sebagai sarapan. Nasi yang digunakan sebagai bahan utama biasanya adalah nasi yang tidak habis dimakan malam harinya sehingga nasi goreng tidak terlalu lembek.

Di restoran-restoran, nasi goreng disajikan dengan telur, ayam goreng, sate, sayuran dan kerupuk. Sedangkan di warung nasi kecil, nasi goreng istimewa pakai telur.

Source: www.wikipedia.com


Lihat juga: seafood, Table 8, Loewy



Rabu, 14 Juli 2010

Nasi Goreng

Nasi goreng, literally meaning "fried rice" in Indonesian and Malay, can refer simply to fried pre-cooked rice, a meal including fried rice accompanied with other items, or a more complicated fried rice, typically spiced with tamarind and chilli and including other ingredients, particularly egg and prawns.

Nasi goreng is considered as national dish of Indonesia. There are many Indonesian cuisines but few national dishes. Nasi goreng is the best of them. Indonesia's national dish knows no social barriers. It can be enjoyed in its simplest manifestation from a tin plate at a roadside warung, or food stall; eaten on porcelain in fancy restaurants, or constructed at the ubiquitous buffet tables of Jakarta dinner parties.

From leftover rice to nasi goreng

The main ingredients for the plain nasi goreng include pre-cooked rice, soy sauce, garlic, shallot and some spring onions for garnishing. Nasi goreng can be eaten at any time of day, and many Indonesians, Malaysians and Singaporeans eat nasi goreng for breakfast, often using leftovers from the previous day's dinner. The rice used to make nasi goreng is cooked ahead of time and left to cool down (so it is not soggy), which is one reason to use rice cooked from the day before.

‘Special’ nasi goreng – as meal component

In restaurants, the dish is often served as a main meal accompanied by additional items such as a fried egg, fried chicken, satay, vegetables, and kerupuk (meaning crackers, also called "prawn crackers" and many other names). In many warungs (street stalls), when accompanied by a fried egg, it is sometimes called nasi goreng istimewa (special fried rice).

Source: www.wikipedia.com


See also: seafood



Senin, 12 Juli 2010

The International Food Policy Research Institute (IFPRI)

The International Food Policy Research Institute (IFPRI) is an international agricultural research center founded in the early 1970s to improve the understanding of national agricultural and food policies to promote the adoption of innovations in agricultural technology. Additionally, IFPRI was meant to shed more light on the role of agricultural and rural development in the broader development pathway of a country.According to its website, the IFPRI "seeks sustainable solutions for ending hunger and poverty."

The IFPRI is part of a network of international research institutes funded in part by the Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR), which in turn is funded by governments, private businesses and foundations, and the World Bank.

Scope

IFPRI carries out food policy research and disseminates it through hundreds of publications, bulletins, conferences, and other initiatives. IFPRI was organized as a District of Columbia non-profit, non-stock corporation on March 5, 1975 and its first research bulletin was produced in February 1976. IFPRI has offices in several developing countries, including China, Ethiopia, and India, and has research staff working in many more countries around the world.

Research Areas

IFPRI’s institutional strategy rests on three pillars: research, capacity strengthening, and policy communication.

Research topics have included low crop and animal productivity, and environmental degradation, water management, fragile lands, property rights, collective action, sustainable intensification of agricultural production, the impact of climate change on poor farmers, the problems and opportunities of biotechnology,food security, micronutrient malnutrition, microfinance programs, urban food security, gender and development, and resource allocation within households.

IFPRI also analyzes agricultural market reforms, trade policy, World Trade Organization negotiations in the context of agriculture, institutional effectiveness, crop and income diversification, postharvest activity, and agroindustry.

The institute is involved in measuring the Millennium Development Goals project and supports governments in the formulation and implementation of development strategies.

Further work includes research on agricultural innovation systems and the role of capacity strengthening in agricultural development.

Products and Publications

IFPRI targets its policy and research products to many audiences, including developing-country policymakers, nongovernmental organizations (NGOs), and civil-society organizations, "opinion leaders", donors, advisers, and media.

Publications by IFPRI include books, research reports, but also newsletters, briefs, and fact sheets. It is also involved in the collection of primary data and the compilation and processing of secondary data.

In 1993 IFPRI introduced the 2020 Vision Initiative, which aims at coordinating and supporting a debate among national governments, nongovernmental organizations, the private sector, international development institutions, and other elements of civil society to reach food security for all by 2020.

As of 2006 IFPRI produces the (GHI) yearly measuring the progress and failure of individual countries and regions in the fight against hunger. The GHI is a collaboration of IFPRI, the Welthungerhilfe, and Concern Worldwide.

IFPRI has produced the related Hunger Index for the States of India (ISHI) (2008) and the Sub-National Hunger Index for Ethiopia (2009).

Organizational structure

IFPRI is made up of the Office of the Director General, a Communications Division and the Finance and Administration Division, and 5 research divisions:

  • Development Strategy and Governance

  • Environment and Production Technology

  • Poverty, Health, and Nutrition

  • Knowledge, Capacity, and Innovation

  • Markets, Trade, and Institutions

IFPRI hosts several research networks:

  • The (ASTI)

  • The CGIAR Systemwide Program on Collective Action and Property Rights (CAPRi)

  • Harvest Plus

  • HarvestChoice

Impact

The evaluation of policy-oriented research poses a lot of challenges including the difficulty to quantify the impact of knowledge and ideas in terms of reduced poverty and or increased income or the attribution of a change in these numbers to a specific study or research project.

Despite these challenges, studies find that IFPRI research had spill-over effects for specific country-level research, but also in setting the global policy agenda, for example in the areas biodiversity (influencing the International Treaty on Plant Genetic Resources) and trade (with respect to the Doha Development Round of trade negotiations).

Another example of IFPRI's impact on policy formulation was the 2007–2008 world food price crisis. IFPRI was able to quickly pull together relevant research and its resulting recommendation where included in the United Nations’ Comprehensive Framework for Action on food security.

Criticism

CGIAR and its agencies, including the IFPRI have been criticized for their connections to Western governments and multinational agribusiness, although its research publications have also been cited by critics of agribusiness and Genetically Modified Organisms in agriculture. IFPRI describes itself as "neither an advocate nor an opponent of genetically modified crops."

Source: www.wikipedia.com

See Also: seafood, dim sum, wine




Kamis, 17 Juni 2010

Pasta

Pasta adalah makanan olahan yang digunakan pada masakan Italia, dibuat dari campuran tepung terigu, air, telur, dan garam yang membentuk adonan yang bisa dibentuk menjadi berbagai variasi ukuran dan bentuk. Pasta dijadikan berbagai hidangan setelah dimasak dengan cara direbus. Di Indonesia, jenis pasta yang populer misalnya spageti, makaroni dan lasagna.

Dalam bahasa Inggris, pasta adalah sebutan untuk berbagai jenis masakan dengan bahan utama salah satu jenis pasta yang diberi bumbu dan saus. Pasta berasal dari bahasa Italia "pasta alimentare" yang berarti adonan bahan makanan. Dalam arti luas, "pasta" bisa berarti semua adonan seperti adonan roti, pastry, atau cake. Dalam bahasa Italia, pasta yang berarti bahan makanan seperti mi disebut pastasciutta.

Pasta dibuat dari tepung terigu semolina yang merupakan hasil gilingan biji gandum durum dicampur telur sehingga sedikit berwarna kuning cerah, dan bila dimasak dengan benar akan menghasilkan tekstur sedikit kenyal. Pasta buatan Amerika sering dibuat dari campuran tepung terigu Farina dan Semolina, sehingga mempunyai tekstur yang lebih lembut untuk dijadikan hidangan seperti kaserol.

Di luar negara asalnya di Italia, pasta biasanya dijual di dalam kemasan dalam bentuk kering. Pasta kering dibuat di pabrik dengan menggunakan mesin ekstrusi yang mendorong keluar adonan pasta melalui lubang-lubang saringan. Bentuk-bentuk pasta yang lain diperoleh dengan menggiling adonan pasta menjadi lembaran yang kemudian dipotong-potong atau dicetak.

Pasta segar buatan rumah tangga dan restoran dibentuk dengan tangan beberapa saat sebelum pasta direbus. Pasta segar memerlukan waktu masak yang singkat, namun pasta segar tidak tahan lama disimpan karena memiliki kadar air yang tinggi. Pasta kering bisa tahan lama disimpan hingga 3 tahun atau lebih karena hanya memiliki kandungan air sebanyak 10%. Pasta yang sudah dimasak dan tinggal dipanaskan dengan oven microwave juga sering dijumpai di bagian makanan beku pasar swalayan.
sumber: wikipedia
lihat juga: restaurant, restoran, makanan dan minuman

Rabu, 16 Juni 2010

Sukiyaki

Sukiyaki (すき焼き, スキヤキ ?) adalah irisan tipis daging sapi, sayur-sayuran, dan tahu di dalam panci besi yang dimasak di atas meja makan dengan cara direbus. Sukiyaki dimakan dengan mencelup irisan daging ke dalam kocokan telur ayam.

Sayur-sayuran untuk Sukiyaki misalnya bawang bombay, daun bawang, sawi putih, shungiku (nama daun dari pohon keluarga seruni), jamur shiitake, dan jamur enoki. Sebagai pelengkap ditambahkan ito konnyaku atau shirataki yang berbentuk seperti soun berwarna bening atau sedikit abu-abu.

Sukiyaki memiliki dua versi, Sukiyaki versi daerah Kansai dan Sukiyaki versi daerah Kanto yang berbeda cara penyajian, jenis bumbu dan rasa.

Menurut Sukiyaki versi Kansai, Sukiyaki hanya dimasak dengan bumbu kecap asin dan gula pasir, sedangkan Sukiyaki versi Kanto dimasak menggunakan saus Warishita yang merupakan campuran dashi, kecap asin, gula pasir, dan mirin yang dimasak terlebih dulu.

Menurut cara Kansai, potongan lemak sapi dicairkan di dalam panci sebelum memasukkan irisan daging sapi. Bumbu berupa gula pasir dan kecap asin dituangkan sekaligus dalam jumlah banyak di atas daging yang sudah matang lalu diaduk-aduk dengan sayur-sayuran hingga matang. Menurut cara Kanto, bumbu warishita dididihkan dulu di dalam panci sebelum semua bahan dimasukkan.
sumber: wikipedia
lihat juga: ramen, sate, sushi

Selasa, 15 Juni 2010

Promo di Chatter Box

Sebelumnya: nasi goreng, sushi, restoran
Promo bertajuk “Sing…Sing…Sing …Singapore food@Chatter Box ” belum lama ini digelar di Chatter Box Grand Indonesia memperkenalkan menu-menu andalan Chatter Box dengan tema makanan khas Singapore yang menggoda selera. Beberapa menu unggulan khas Singapore tersebut seperti Roast Duck with hainan Rice, Walking Hainan Chicken Rice , Fried Hokkian Mie dan Rojak Singapore. Semua hidangan bercitarasa otentik tersebut diracik secara khusus oleh chef asal Singapura, George Lee yang sekaligus merupakan Executive Chef Chatter Box.

Untuk makanan pembangkit selera Anda bisa mencoba Chatter Box Prawn Laksa, laksa special yang disajikan dengan lontong dan mie hongkong dari Chatter Box ini punya rasa gurih yang kental dan lezat. Laksa Chatter Box memiliki perbedaan dengan laksa yang yang pernah kita temukan selama ini. Selain menggunakan susu segar sebagai campuran kuahnya, laksa ini dan semua makanan di Chatter Box dijamin bebas MSG.

Buat pecinta Rojak bisa mencicipi rujak khas Singapore yang dikenal dengan sebutan Rojak Singapore. Meskipun tampilannya mirip dengan rujak buah tetapi racikan bumbunya sangat berbeda dengan rasanya yang pedas, manis dan segar.

Chatter Box menggelar promo “Sing…Sing…Sing…Singapore food” ini di 8 outlet Chatter Box di Jakarta hingga 15 Juli 2010. Selama masa promo pengunjung bisa menikmati ½ harga untuk setiap pembelian menu ke-2 khusus bagi hidangan Singapura.

sumber: openrice

Senin, 14 Juni 2010

Nonton Bareng Piala Dunia Dengan makanan Favorit

Piala dunia sudah mulai masing-masing orang punya jagoan dan biasanya membela jagoannya habis-habisan.
Nobar atau nonton bareng lebih seru dibanding nonton sendirian di rumah dimana kita bisa teriak-teriak mendukung kesebelasan jagoan kita berharap cemas ketika bola mulai mendekati gawang lawan bahkan ada yang tutup mata saat bola menyambangi gawang team kesayangannya.
Tak usah bingung mau nobar dimana sekarang sudah banyak tempat-tempat asik buat nobar karena banyak restaurant, restoran, cafe, menyediakan acara nonton bareng piala dunia. Dimana kita bisa juga sambil menyantap makanan dan minuman kesukaan sambil membela team kesayangan.
Karena seperti sepak bola makanan dan minuman juga masing-masing punya selera, ada yang suka japanese food, seperti sushi, ramen. ada pula yang suka chinese food seperti dim sum. Ada pula yang yang suka makanan khas western seperti pizza, pasta, steak, ice cream, cake, wine. Ada pula yang suka seafood dan tak ketinggalan makanan khas dari Indonesia seperti Nasi goreng, soto, sate, dll.
Jadi meriahkan pesta piala dunia dengan nonton bareng sambil menikmati makanan kesukaanmu itu lebih mengasikkan . Apalagi kalau pengalaman itu bisa di abadikan dan di ceritakan kembali di openrice kali aja dapet voucher makan gratis lumayan kan :)